ftth open access

FTTH Open Access: Solusi atau Masalah Baru Saat 6 ISP Masuk ke Satu Perumahan?

Beberapa waktu lalu,sebuah komplek perumahan di kawasan Tangsel mengirim undangan.Materi undangannya tidak main main,penurunan jaringan kabel udara fiber optic menjadi kabel tanah.Ada 4 provider eksisting dan 2 provider baru yang akan masuk.Alasan utama adalah mengurangi lalu lintas kabel yang semrawut dan mengurangi jumlah tiang yang secara estetika mengganggu lingkungan karena jumlahnya sudah terlalu banyak.

Solusi yang diusulkan adalah semua jaringan diturunkan ke bawah tanah.Namun muncul satu pertanyaan penting, “Apakah memindahkan kabel dari atas ke bawah otomatis membuat jaringan menjadi rapi?”.

Atau justru hanya memindahkan kekacauan ke tempat yang tidak terlihat?

Kondisi komplek perumahan merupakan perumahan lama dengan okupansi 99%.Rata-rata lebar jalan 5 meter termasuk bahu jalan.Masalahnya adalah , provider yang akan diturunkan menjadi jaringan kabel tanah terlalu banyak, 4 provider lama dan 2 provider baru yang akan masuk.Menurunkan kabel udara menjadi kabel tanah sejatinya hanya memindahkan penumpukan 6 batang tiang dalam satu titik menjadi 6 buah box distribusi dalam satu titik. Belum lagi kerumitan pengaturan untuk jalur akses dari Box Distribusi ke rumah-rumah,apakah akan masing masing menggunakan jalur sendiri atau berbagi jalur?

Artinya, meskipun kabel sudah ditanam, kompleksitasnya tetap sama. Bahkan dalam beberapa kasus, justru lebih sulit dikelola karena semuanya berada di bawah tanah.

Di titik inilah konsep FTTH Open Access menjadi relevan.

Apakah itu FTTH Open Access?

FTTH (Fiber To The Home) Open Access adalah model jaringan fiber optik di mana satu infrastruktur dapat digunakan oleh banyak Internet Service Provider (ISP) secara bersamaan.

Artinya:

  • Jaringan fiber tidak dimiliki eksklusif oleh satu ISP
  • Banyak ISP bisa masuk dan menawarkan layanan ke pelanggan di area yang sama

Dengan berbagi jaringan maka, untuk melayani satu cluster / komplek perumahan tidak lagi diperkukan banyak tiang (kabel udara ) dan banyak box pedestal ( kabel tanah ).Sehingga lingkungan secara estetika akan lebih rapi karena minim kabel ,tiang dan Box pedestal.Hal ini bisa terjadi karena jaringan didesain untuk bisa digunakan oleh banyak ISP.

Dalam model ini, yang dibagi adalah infrastruktur pasif (ODN / Optical Distribution Network), sementara layanan tetap dikelola masing-masing ISP.

Kenapa FTTH Open Access dianggap solusi ?

1. Untuk Developer Perumahan

  • Meningkatkan Nilai Jual Properti Internet cepat dan fleksibel jadi selling point utama
  • Tidak Tergantung 1 ISP,Menghindari risiko kualitas buruk dari satu provider
  • Diferensiasi Produk,Terutama di segmen perumahan premium
  • Lingkungan lebih estetik karena terhindar buka tutup galian untuk penambahan jaringan ISP dan penempatan tiang / box pedestal yang berlebihan.

2. Untuk ISP

  • Masuk Tanpa Bangun Infrastruktur,Tidak perlu investasi besar di awal
  • Akses ke Market Premium,Cluster elit biasanya sulit ditembus
  • Skalabilitas Cepat,Fokus ke marketing dan layanan
  • Menghemat biaya kompensasi sitac yang semakin lama semakin mahal

3. Untuk Penghuni

  • Bisa Pilih ISP,Tidak terjebak satu provider
  • Harga Lebih Kompetitif,Karena ada persaingan
  • Kualitas Lebih Baik,ISP harus bersaing secara layanan

Mengapa ISP masih enggan menggunakan FTTH Open Access?

Di atas kertas, Open Access terlihat ideal. Namun di lapangan, tidak sesederhana itu.Setidaknya ada 4 alasan mengapa ISP enggan menggunakan FTTH Open Access :

1. Kehilangan kontrol kualitas layanan

ISP tidak punya visibilitas langsung ke titik mana pun dalam infrastruktur fisik — OLT (Optical Line Terminal), ODC ( Optical Distribution Cabinet) , maupun ODP ( Optical Distribution Point ) semuanya dikelola dan dimonitor oleh Infra Provider. ISP bergantung penuh pada data, dashboard, atau laporan yang diberikan Infra Provider untuk troubleshooting. Kalau Infra Provider lambat respons atau datanya tidak transparan, ISP benar-benar buta terhadap kondisi jaringan mereka sendiri.

2. Ketergantungan pada Infra Provider yang bisa berubah

  • Tarif sewa bisa naik sewaktu-waktu
  • Infra Provider bisa bangkrut, diakuisisi, atau berubah kebijakan
  • Roadmap upgrade infrastruktur tidak dalam kendali ISP

3. Hilangnya diferensiasi pada infrastruktur jaringan

Kalau semua ISP pakai Optical Distribution Netwrok (ODN) yang sama, kompetisi bergeser murni ke harga dan layanan pelanggan — margin tertekan, ISP kecil yang efisien bisa mengancam ISP besar yang dulu terlindungi oleh infrastrukturnya.

4. Investasi yang sudah terlanjur besar.

ISP yang sudah investasi bangun jaringan sendiri merasa tidak adil harus berbagi jalur dengan ISP yang tidak ikut membangun.Memperluas jaringan baru dan memperluas penetrasi jaringan dengan segala tantangannya tentunya bukan hal yang mudah.Keunggulan tersebut bisa menjadi hilang dengan skema berbagi jaringan.Secara psikologis dan bisnis,ini tidak mudah untuk diterima

FTTH Open Access di Indonesia.

Di Indonesia,konsep open access sudah mulai muncul meski belum sepenuhnya ideal.Beberapa contoh :

  • Penyedia jaringan sudah menyediakan model jaringan semi open access.Misal Fiberstar selama ini dikenal sebagai jaringan yang bisa digunakan oleh berbagai macam ISP,meski dalam prakteknya Fiberstar lebih mengutamakan Kerjasama strategis dengan CBN sebagai mitra tetapnya.
  • Regulasi Nasional: Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 46 Tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran. Salah satu fokus utamanya adalah memfasilitasi dan mendorong penggunaan infrastruktur pasif secara bersama. Ini memberi dasar hukum bagi Pemerintah Daerah untuk memaksa ISP menggunakan satu infrastruktur gabungan.Pengertian infrastruktur pasif di sini merujuk pada penggunaan Tiang bersama,ducting bersama dan manhole bersama.
  • Gerakan Pemerintah Daerah: Di Sukabumi Pemkot sudah membangun tiang Bersama ( meski masih terbatas ) dan ducting bersama.
  • Ibu Kota Nusantara (IKN): IKN dibangun sejak awal dengan prinsip ini. Di IKN, infrastruktur telekomunikasi bersifat Open Access dan dipasang di bawah tanah melalui skema Multi Utility Tunnel (MUT). Tidak akan ada tiang-tiang ISP yang berdiri sendiri di IKN; semuanya disatukan dalam satu lorong utilitas yang bisa disewa oleh berbagai operator.

Namun ada satu hal penting:

Berbagi tiang atau ducting belum tentu berarti Open Access.

Karena dengan berbagi infrastrukture pasif ( tiang,ducting,manhole)

  • Kabel tetap banya jalur karena masing-masing ISP tetap membangun,berpotensi tetap semrawut untuk methode kabel udara
  • Meski ducting dan manhole menggunakan infrastruktur bersama,namun ODP masing-masing ISP tetap terpisah dan berpotensi terjadi penumpukan Box ODP di satu titik
  • Kompleksitas tetap tinggi

Artinya, masalah estetika dan efisiensi belum benar-benar selesai.

Kesalahan Umum

Banyak pihak menganggap bahwa Selama kabel ditanam, masalah selesai.Atau selama sudah ada tiang bersama,ducting bersama dan manhole bersama,maka permasalahan selesai.

Padahal yang sering terjadi:

  • Jumlah jalur tetap banyak
  • Box distribusi tetap menumpuk
  • Maintenance menjadi lebih sulit
  • Biaya perbaikan bisa lebih tinggi

Tanpa desain jaringan yang benar, hasilnya hanya:memindahkan masalah dari atas tanah ke bawah tanah.Ini yang akan terjadi kalau perumahan di Tangsel yang mengirim undangan tadi hanya berkutat kepada upaya menurunkan jaringan kabel udara menjadi kabel tanah :

  • Terdapat 6 jalur rute kabel milik 6 ISP, dengan 6 pipa HDPE 40/33 mm sebagai pelindung kabel dan harus berbagi tempat dengan jaringan air minum ,gas dan listrik.
  • Membangun Manhole ukuran besar agar mampu menampung titik pencabangan kabel 6 ISP. Manhole besar diperlukan agar mampu menampung 6 joint box dalam satu tempat dan ke depannya mudah dilakukan manitenance jaringan.
  • Terdapat 6 titik Box Distribution Point yaitu ujung jaringan Fiber Optik sebelum ke rumah pelanggan.(perhatikan ilustrasi gambar utama).
  • Dengan adanya 6 Box Distribution Point,maka perlu 6 jalur akses dari Box Distribution Point ke arah pelanggan.

Arsitektur FTTH Open Access

Kapan FTTH Open Access Bisa Benar Benar Berjalan?

Agar FTTH Open Acces bisa dilaksanakan secara optimal,diperlukan beberapa pesyaratan penting :

1. Regulasi yang kuat

Model FTTH Open Access sulit berjalan selama tidak ada kewajiban struktural dari Kominfo/BRTI, ISP akan selalu pilih bangun sendiri kalau bisa.Maka diperlukan :

  • Aturan yang jelas
  • Standarisasi teknis
  • Dukungan pemerintah

2. Infra Provider harus benar-benar netral

Penyedia infrastruktur harus:

  • Transparan dalam operasional
  • Tidak memiliki konflik kepentingan
  • Tidak memihak ISP tertentu

3. Skala ekonomi harus menguntungkan semua pihak

  • Infra Provider perlu volume tenant yang cukup untuk menutup capex.
  • ISP perlu tarif sewa yang lebih murah dari biaya bangun sendiri.

Kesimpulan

FTTH Open Access bukan sekadar solusi teknis.Ini adalah perubahan cara berpikir:

  • Dari kepemilikan jaringan → ke berbagi infrastruktur
  • Dari dominasi → ke kompetisi layanan

Namun satu hal yang sering dilupakan:

Open Access bukan soal teknologi. Ini soal siapa yang mau melepas kontrol atas infrastrukturnya, dan siapa yang mau menanggung risiko bisnis dari berbagi jaringan dengan kompetitor.

Tanpa regulasi yang kuat dan ekosistem yang sehat, Open Access akan tetap menjadi konsep yang menarik,namun sulit diwujudkan secara luas di lapangan.

Pemilik kawasan semestinya mempunyai kekuatan “memaksa” agar ISP yang beroperasi di kawasannya harus menerapkan FTTH Open Access agar tercipta kawasan yang tertib secara estetika dan punya pilihan ISP yang kompetitif dan beragam.

Loading

Praktisi FTTH & Jaringan | Konsultan Properti | Blogger | Pengelola Property Birulangit | Digital Marketing Enthusiast
Pos dibuat 26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas